Posted by: senimanpeta | November 1, 2009

Peta Mental

dari bajo1

senimanpeta di kabin penumpang

Perjalanan ke Bali dari Nusa Tenggara Timur beberapa hari lalu benar-benar mengingatkan kembali sesuatu yang telah dalam lipatan-lipatan ingatan. Meskipun awalnya ketika naik ke PropJet Fokker 50 itu masih ada rasa jengkel karena keberangkatan yang tidak tepat waktu. Lagi-lagi dibalik peristiwa selalu ada makna, ada pelajaran. Dan yang kali ini berkaitan dengan masa lalu, yaitu mata kuliah wajib buat senimanpeta-senimanpeta, Kartografi Dasar…!

 

Sesaat setelah lepas landas, rasa jengkel karena keberangkatan terlambat itu masih ada. Hingga sekitar menit ke 40 an.., entah kenapa ada keinginan menoleh ke arah jendela yang kebetulan pas disamping saya duduk. Dan saya yang menanggalkan kacamata minus, menggantinya dengan sunglass melihat pemandangan landscape pulau-pulau dikejauhan, tepatnya disisi kanan jalur pesawat. Terburu-buru saya mengambil buku catatan kecil yang biasa dibawa bertualang dan ballpoint dari backpack yang tadi diletak di bawah kursi penumpang yang ada didepan saya.  Selanjutnya  mulai menggambar sketsa apa yang saya lihat. Perlahan saya sadar, rasanya saya sudah kenal daerah yang sedang terpampang dikejauhan dan sedang coba saya sket. Seperti layaknya memandangi peta daerah itu yang terbentang di atas meja atau dilayar laptop yang biasa saya andalkan itu (si black beauty T61). Nama-nama pulau dikejauhan itu saya kenal, dan pesawat berada di atas daerah mana, pulau apa, akhirnya otomatis terdefinisi. Serasa memandangi peta yang biasa saya lihat setiap hari, bagian dari Lesser Sunda (Sunda Kecil). Akhirnya saya lihat secara langsung keberadaannya.

 

Ingatan saya itu menuntun saya memahami apa yang sedang terpampang didepan mata. Rasanya saya sudah tahu seluk beluk wilayah yang sedang dilintasi pesawat serta pulau-pulau yang terbentang dikejauhan itu. Akhirnya saya teringat pada kata yang pernah terlontar dari Guru Kartografi Dasar itu, “Peta Mental (Mental Map)”. Kalau saya tidak salah, dalam pelajaran 10 tahun lalu itu, peta mental itu berkaitan dengan cara seseorang memperoleh, menyimpan, mengorganisir dan mengingat kembali informasi tentang lokasi, jarak dan susunan keruangan. Peta mental ini sifatnya unik, karena pada disetiap individu gambaran itu bisa berlainan, kesan yang ditangkap, liputan yang berhasil direkam akan berbeda. Semua tergantung pada individu itu. Misalnya peta mental seseorang tentang pada suatu tempat bagi yang belum pernah datang tentu akan berbeda dengan peta mental orang yang dari lahir, besar dan tinggal ditempat itu. Jadi gambaran dan kesan pada lokasi itupun akan berbeda. Aktifitas pemetaan mental ini  sebenarnya tanpa disadari berlangsung terus. Sehingga anda mengenali suatu lokasi. Seberapa detil, seberapa luas liputannya tergantung anda saja.

 

Well, akhirnya selama perjalanan itu saya asyik menikmati pemandangan yang tampak dari jendela. Hingga terdengar suara dari Kapten Pilot, “flight attendance, landing position please”.  Sebentar lagi pesawat baling-baling ini mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.

Advertisements
Posted by: senimanpeta | October 22, 2009

Tidak jelas..?

nggak jelas

nggak jelas

Dimana-mana penjelasan yang tidak jelas itu menimbulkan kebingungan, ketidak jelasan atau sekedar tanda tanya bagi yang tidak berani mengajukan pertanyaan. Lebih parah lagi setelah kebingungan itu kemudian diikuti langkah yang salah, ya tersesat.  Apalagi jika sudah ada semboyan malu bertanya ndak usah tanya. Repot…

Dengan diam, selamanya jawaban itu tidak akan diperoleh, selama itu pula kebingungan atau ketersesatan tidak ada jalan keluarnya.

Posted by: senimanpeta | October 19, 2009

Scale Bar

sketch 101

sketch 101

Scale Bar is a map element that shows the map scale graphically.
(http://en.mimi.hu/gis/scale_bar.html)

Scale bar atau ada yang menyebut skala batang atau ada pula yang mengatakan skala grafis, sungguh tampak sederhana. Tetapi kegunaan skala batang ini menurut saya esensial. Saya termasuk paling suka menggunakannya didalam layout peta dibandingkan skala numerik atau skala angka. Daripada menuliskan skala numerik 1: 50.000 misalnya, saya akan lebih suka menempatkan skala batang sebagai gantinya.

Mengapa?, skala batang ini memiliki fleksibilitas tinggi. Fleksibel mengikuti ukuran print outnya/ hasil cetak. Misalnya saya punya Layout peta di ukuran A0, kemudian saya cetak di kertas A4, secara otomatis proporsi skala bar ini mengikuti. Meskipun di layout aselinya tampak lebih panjang dan di hasil cetak lebih pendek, namun bila diperbandingkan proporsi keduanya akan sama. Jadi jarak yang diwakili kedua skala batang tadi tetap sama. Kalau skala numerik bisa jadi akan menipu.

Begini misalnya, bila saya punya peta hardcopy ukuran A1, tertulis dipeta itu  dengan skala numerik 1:25.000, kemudian skala batangnya ada dibawahnya. Selanjutnya saya foto copy dengan pengecilan agar bisa tampil di kertas A3. Pada peta hasil foto copy di atas kertas A3, akan muncul juga skala numerik itu, sama tertulis 1:25.000 berikut skala batang yang ada dibawahnya. Namun, seaindainya dilakukan pengukuran jarak menggunakan peta  ukuran A3 itu dengan pedoman skala numeriknya, tentu akan salah. Sebab skala numerik itu sudah tidak benar karena telah terjadi perubahan ukuran/dimensi peta dari ukuran A1 ke A3.

Setelah perunahan ukuran tadi, skala batanglah yang semestinya menjadi acuan karena meskipun nampak lebih kecil dari aselinya tetapi proporsinya tidak berubah. Angka yang ditunjukkan oleh skala batang tetap dapat mewakili jarak sesuai dengan hasil cetak itu. Mau cetakan diperbesar maupun diperkecil proporsi skala batang dalam menunjukkan suatu jarak tidak akan berubah.

Karena kejadian seperti diatas bisa terjadi, kartografer, senimanpeta yang membuat peta-peta resmi,  pada umumnya mencantumkan skala batang untuk mendampingi skala numerik. Atau paling tidak menampilkan informasi skala dengan skala batang saja.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories