Posted by: senimanpeta | April 7, 2009

Yang nggak keliatan jadi keliatan

Ada pengalaman yang membuktikan betapa model visulisasi ini sangat penting. Bukan hanya karena saya secara kebetulan dianugerahi hidup sebagai senimanpeta, tetapi sebagai manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Ceritanya begini, sore (05/04/09) saya dikunjungi oleh sahabat sesama senimanpeta, dahulu satu almamater. Dia bekerja sebagai senimanpeta di institusi pemerintah sekarang. Kami bertemu disatu publik area di Niti Mandala yang mudah ditemukan dan strategis. Selesai jumpa darat saya harus mengantarkannya ke tempat rombongan senimanpeta dari institusinya menginap. Situasi malam hari dan kebetulan menginap ditempat kawannya di suatu daerah yang saya sendiri belum mengenalnya. Sahabat saya itu lupa tidak mengaktifkan GPS, karena set harinya vacation, mau jalan-jalan dan tadi sampai lokasi karena diantar mobil yang dipakai rombongannya. Sahabat saya itu cuma mengingat beberapa tanda dijalan plus nama jalan tempat menginap (ngawur juga ini, ndak boleh ditiru, masa bawa alat canggih cuma dianggurin, ken ken ini bli?).

Saya pribadi walau cukup lama sering lewat di area ini, tak semuanya secara detail terliput dalam mental map saya. Sebagian area bisa detail, sebagian lagi hanya garis besar dan semi-detail. Hal yang wajar karena kapasitas manusia dan ini natural. Terus bagaimana bisa ketemu lokasinya???

Nah, kita sepakat membuka http://wikimapia.org/ sebelum berangkat. Seach nama jalan dan terpampanglah dilayar citra satelit area disekitar jalan yang kami tuju. Sesuatu yang saya sendiri tak pernah melihatnya kemudian menjadi melihat. Yang nggak keliatan jadi keliatan. “Oh nanti belok kiri di gedung pertemuan banjar T, dari jalan utama Teuku Umar yang ini kemudian menyusuri jalan itu, Padang Sambian areanya, paham” kata saya. Bila dipadukan dengan mental map yang saya miliki seolah-olah saya pernah melihatnya. Disudut banjar ada pohon, banjar itu ada persis di perempatan yang ada lampu merahnya. Disambung dengan mental map teman saya yang mengingat tanda dijalan disekitar dia menginap pasti ketemu. Kami sepakat pasti ketemu. Ya memang ketemu dengan cara yang sederhana. Buka peta, pahami dan jalani.

Nggak mungkin ah.. . Bagi yang belum tahu cara-cara ini, dikiranya 2 orang senimanpeta adalah 2 orang nekad dan menggunakan cara irasional mencari lokasi.

Yang tidak mungkin itu alami, The Imposible is natural (Krygier et al,p13, 2005). Padahal ini semua rasional ada dasarnya yaitu menggunakan peta. Bukan karena kami orang hebat, namun visualisasi peta tadi membantu saya memahami area yang hendak dituju dan menambahkan informasi yang saya sendiri belum pernah melihatnya dan visualisasi tadi juga membantu sahabat saya menjelaskan kepada saya area yang dia hendak tuju secara lebih spesifik. Klop sudah.

“Sesuatu yang rumit dan kompleks bisa divisualisasikan sederhana dan mudah dimengerti”

Advertisements

Responses

  1. *garuk-garuk
    ::ndak ngerti…
    😀

  2. wah setuju bgt. Aku muter di kota megapolitan cuma berbekal peta mental dan lihat peta cetakan. Walau sdh tau ya tetap hati2 agar tidak kena semprit pak polisi :))


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: