Posted by: senimanpeta | January 7, 2009

Spidology

Rupa-rupanya sudah cukup lama tidak menulis. Ini akibat dari tata waktu yang kurang mendukung (= alasan sibuk). Malam ini saya merindukkan rasa kantuk yang tak kunjung datang. Moga-moga bila tulisan ini selesai saya jadi ngantuk. Dan ini menjadi tulisan pertama diblog ini untuk tahun 2009. Ini terkait dengan kata spidology.

Kata spidology saya dapat semasa sekolah peta beberapa tahun lalu. Maklum waktu itu hari-hari tidak terpisahkan dari kertas kalkir, rapido, plastik transparan dan ohp marker. Jadi spidology ini adalah joke, ilmu menggunakan spidol untuk mendelineasi suatu obyek. Waktu itu banyak praktikum yang masih sangat sederhana (saya menyebutnya manual). Misalnya untuk interpretasi citra satelit penginderaan jauh, citra tersebut diprint dulu, kemudian diatasnya ditaruh plastik transparan. Kemudian diatas plastik itulah spidol ohp (ohp marker) digoreskan untuk mendelineasi obyek. Kalau masih tidak yakin, salah, menghapusnya tinggal disiram spritus. Hasil delineasi dari plastik ini biasanya kemudian digambar ulang dikertas kalkir atau di copy. Untuk keperluan digitasi, hasil tersebut dipampang diatas meja digitizer dan digarap dengan ArcInfo. Ribet dan untuk saat ini bisa disebut klasik barangkali.

Ada kisah terkait spidology yang kalau saya ingat kembali jadi senyum-senyum sendiri. Ini terjadi waktu menjelang KKL (Kuliah Kerja Lapangan) III, sekitar 10 tahun lalu. Tim interpretasi termasuk didalamnya saya sudah 3 hari bekerja interpretasi bentuklahan (landform) berdasarkan suatu citra satelit. Pokoknya kita sangat confidence dengan setiap goresan spidol kita. Dumadakan, guru saya datang memeriksa. Suasana jadi tegang, maklum untuk urusan bentuklahan guru yang satu ini sangat sakti.

Beberapa menit kemudian, kami semua tahu bahwa interpretasi kurang detil. Komentar-komentar guru ini juga keras dan tegas, bahkan beliau show up kebolehannya. Adu argumen pun terjadi, dan berujung kata kalau tidak percaya, anda lihat saja sendiri dilapangan. Wadaw, ini jawaban tingkat tinggi dari seorang guru. Kami pun tak membantah. Saran beliau untuk memperbaiki hasil interpretasi juga sederhana waktu itu. Siram kembali dengan spritus dan mulai dari awal.

Terkait dengan spidology ini, ada pelajaran yang saat itu langsung bisa saya tangkap. Yaitu science behind goresan spidol itu. Tidak sekedar membuat spidol menari-nari diatas media interpretasi. Ada penjelasan yang keilmuan dari setiap goresan spidol itu. Ada makna disetiap delineasi yang dilakukan dan harapannya adalah delineasi yang dilakukan mendekati kenyataan sebenarnya. Dan hasil dari proses ini menjadi informasi yang bermanfaat bukan informasi yang menyesatkan.

Saat itu saya menjadi sadar, tidak mudah ternyata. Dan tidak bisa instant menguasai interpretasi bentuklahan ini. Tak semudah mengganti warna spidol yang digunakan agar goresan-goresan itu terlihat indah. Tetapi lebih pada aspek makna. Apakah goresan itu hanya akan  sekedar Gambar Indah Sekali? (GIS)

Selamat tahun baru 2009 buat para senimanpeta dimanapun anda berada…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: