Posted by: senimanpeta | August 12, 2008

Cybercartography, apalagi?

Cybercartography was defined as “The organization, presentation, analysis and communication of spatially referenced information on a wide variety of topics of interest to society in an interactive, dynamic, multisensory format with the use of multimedia and multimodal interfaces” (Taylor 1997).

Cybercartography, apalagi?. Kebetulan saya menemukan artikel saat browsing. Saya rupanya menjadi kaget namun kemudian menyadari, jelas negeri ini kalo soal yang begini-begini ketinggal. Ini masalah mencetuskan konsep. Soalnya kebanyakan dari orang kita agaknya masih jago tiru-tiru saja (saya idem) dan di end user saja (termasuk saya). Google Earth yang sering anda lihat, pakai itu salah satu wujudnya.
Masuk dalam area interactive, dynamic, multisensory format with the use of multimedia and multimodal interfaces. Ya ndak?.

Kalau dilihat dari tahun publikasinya, waktu itu saya blum kepikiran akan jadi berprofesi seperti ini. Dan kata “reformasi”.belumlah sepopuler seperti sekarang.

Kita sudah ada dimana ya setelah 10 tahun artikel itu dipublikasi?,
Ternyata kita masih sibuk dengan menangkap koruptor. Pulau-pulau kecil saja katanya masih belum semua terpetakan dan rupa-rupanyanya kawasan konservasi juga belum dengan terang benderang harus diakses dimana?. Menurut si anu harus ke anu dulu, menurut si anu lagi datanya tidak lengkap. Kok anu dan anu yang banyak?.

Gimana teman-teman, gotong royong membangun yang seperti Google Earth tapi isinya informasi kawasan konservasi, land cover dst gimana?. Ya pake mapserver boleh deh, ada yang mau ndak nih..?. Tapi mari kita rencanakan bersama, sedirian rasanya terlalu kemlinthi. Apalagi diluar sana anginnya sembribit, kalo saya sendirian bisa kabur kanginan.

Anggap aja niat baik teman-teman sebagai wujud bakti pada pertiwi, sebentar lagi negeri ini ultah yang ke-63. Oo, rupanya membangun tanpa peta (rencana) membuat segalanya tidak terencana.

Inspirasi :

Taylor, D.R.F. 1997. “Maps and Mapping in the Information Era.” Proceedings, Vol. 1, Swedish Cartographic Society Keynote address to the 18th ICA Conference, edited by L. Ottoson. Stockholm. 1-10.

Advertisements

Responses

  1. Haduh, iya juga ya mas
    tapi saya perlu belajar map server dulu ini
    ada tutorialnya ngga? :mrgreen:

  2. kalau kau ingin mencari tempat…..
    halah jadi ingat DORA
    😀
    pemetaan sosial penting juga khan?
    pemetaan DNA juga….
    jadi peta itu penting!

  3. bener mas… indonesia raya ini.. memang mengalami nasib tragis. saking rayanya bingung harus cari referensi kemana. semuanya raya pilihan… yang ujungnya raya yang negatif 😦

    maju terus pantang mundur… peta yang sahih akan berguna bagi orang banyak!

  4. Setuju.. memang semuanya harus di petakan. Selamat bekerja dan semoga sukses.
    😀
    maaf tidak ikutan krn saya wong bahasa, cuma mendukung saja…. boleh kan ? 🙂

  5. Kalo peta bahasa…. saya mau…

  6. gara2 baca naked traveler, jd pengen banget jalan2 ke pulau2 terluar di indo.

    kok bisa ya, wilayah negeri sendiri tidak terpetakan.
    hmm, logika pembangunan yang aneh !??!!????!!??

  7. hai mas
    idenya menarik
    aku mau bergabung 🙂
    itung-itung mengungkapkan cintaku pada ibu pertiwi, hihi..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: