Posted by: senimanpeta | July 30, 2008

Data spasial, kok mahal sih?

Semoga tulisan ini sedikit banyak masih nyambung dengan tulisan sebelumnya, yaitu pemetaan “gotong-royong”. Dari situ soalnya saya ingin membincangkan mahalnya data spasial yang berkualitas. Karena dari peristiwa “gotong-royong ” saja sudah tampak bahwa betapa berharganya data spasial yang akan dihasilkan. Itu kalau pun dikerjakan secara gratisan, tenaga, waktu dan biaya tidak dihitung.
Kalau dinominalkan, dikomersialkan.., berapa duit?

Saya jadi ingat kisah beberapa bulan yang lalu.Pernah suatu hari ada teman bertanya harga citra satelit dengan resolusi yang memadai, setelah saya beritahu harganya, dia mengurungkan diri membelinya. “Budgetnya kurang” katanya. Jelas sudah, mengapa vendor data spasial berkualitas selalu pasang harga yang mahal untuk setiap produk mereka. Institusi pemerintah tertentu juga memasang tarif untuk setiap data. Bukan mau membela vendor-vendor data spasial itu loh.., terus terang saya malah suka
kalo bisa dan boleh data itu digratiskan aja. Mungkinkah?

Layaknya pakaian, aksesories terkenal saja, bahan bagus, kualitas bagus, merk bagus, tentu saja harga juga ikutan bagus. Demikian juga dengan data spasial berkualitas. Sepertinya begitulah hukum dagang dan memang sekarang jaman serba pakai uang. Itu baru dari sisi data spasialnya, belum lagi verifikasi datanya.. . Verifikasi ini juga butuh tenaga,biaya, waktu dll

Sebelum dipublikasikan normalnya, data harus lolos verifikasi.
Di cek terlebih dahulu, misalnya dilokasi x apa benar ada mangrovenya, apa benar ada daerah tambaknya..?. Ini untuk menjaga Kualitas dan membuat akurasinya diketahui.
Kadang ada yang ngotot tidak melakukan verifikasi karena buang-buang biaya ya?
Saking percaya dirinya dengan sumber data dan metode yang dipakai, begitu.
“Ha wong ini pake citra Quick Bird terbaru, ndak mungkin mlengse lagi..”, begitu misalnya.
Sik-sik, kalo saya boleh bilang, mau pake teknologi apapun, sumber data apapun, ndak
ada salahnya kok verifikasi. Bukan saya sok kemlinthi dalam bidang ini loh dengan mewajibkan sesuatu berkaitan dengan proses pengumpulan data.

Ilustrasi ini misalnya saja loh.., memetakan liputan mangrove dipantai x,
data yang digunakan misalnya Quick Bird Januari 2008, masih 6 bulan lalu to, datanya masih cukup hangat. Ketika itu luasan hutan mangrove dipantai x misalnya yyyy ha. Data liputan mangrove akan
direlease akhir Agustus nanti. Dan ternyata, ternyata ini, 3 bulan lalu, hutan mangrove sebagian
dipotong orang buat lokasi tambak yang baru. Mlengse sudah informasi itu nanti. Ya itu sedikit gambaran kasar pentingnya verifikasi.

Oleh karena itu pada peta yang dipublikasikan sebagai referensi orang banyak selalu
mencantumkan sumber data, kapan diverifikasi, kapan dipublikasikan. Semuanya harus jelas.
Dan yang namanya peta sifatnya tidak statis, up date berkala tetap diperlukan.
Apa anda mau mengacu analisis ada pada peta usang yang sudah tidak relevan?
Kalau anda begitu, saya termasuk orang yang akan muni-muni (didepan layar monitor hehehe)
Akhirnya, karena proses dari awal-akhir penyusunan data spasial itu merupakan proses yang panjang dan tidak mudah, itulah alasan mengapa data spasial berkualitas menjadi “mahal”. Wis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: