Posted by: senimanpeta | June 4, 2008

Peta : Bahasa Komunikasi Visual

Untuk menuju suatu lokasi yang belum diketahui, seseorang bisa bertakon (= bertanya;asking) kepada orang lain. Setelah cuap-cuap sedikit menyampaikan pertanyaan dan orang yang ditanya menjelaskan, sampeyan manggut-manggut (= mengangguk) tanda mengerti. Asumsinya, sudah mengerti jalan menuju lokasi tersebut.
Orang-orang ditempat saya berasal, menggunakan landmark, mata angin (lor, kidul, kulon & wetan) sebagai penuntun. Tidak terbiasa dengan kiwa-tengen (kiri-kanan), sebagai penuntun. Bayangkan kalau sampeyan itu priyayi Jogja, mau ke pasar Pundong (= salah satu pasar tradisional yang terkenal didekat kampung saya), tidak tahu jalan kesana dan bertanya pada Pak Kromo (= nama orang biasa;ordinary people, dan biasanya petani) yang lagi angon (=menggembala) kambing dipinggir jalan Parangtritis, tepatnya di sekitar Km 13. Dan Pak Kromo menjawab, “Nakmas, kalo mau ke pasar Pundong, nanti ikuti jalan ini, setelah ketemu sempalan Pundong, beloklah ketimur, jangan belok ke jalan yang ke arah barat, nanti nyasar ke Ganjuran”. Sebagai priyayi, anda bakal malu dong kalau penjelasan Pak Kromo tadi tidak di iyakan. Priyayi identik dengan wong pinter, gengsi dong kalau masih bilang ndak tahu. Sampeyan langsung nyengklak sepeda motor lagi setelah bilang matur nuwun (= thank you) pada Pak Kromo. Apa jadinya..?. Setidaknya ada 3 kemungkinan, yaitu :
1. bakal terus nyasar-nyasar karena sempalan Pundong itu tidak tahu, wong arti sempalan itu juga bingung.
2. tanya orang lain lagi, wong jawaban Pak Kromo masih membingungkan
3. langsung ketemu, sampeyan berarti priyayi yang sakti, bisa mengubah informasi verbal menjadi visual,
mendengar kerterangan Pak Kromo di otak langsung kebayang semua
Hayo, mana yang lebih mungkin..

Bayangan lain, sampeyan bener-bener priyayi jogja yang pinter dan modern. Membawa peta obyek wisata di jogja yang memuat informasi jalan. Selain bertanya kepada Pak Kromo dengan tutur kata, sampeyan juga menggelar peta itu. Bukan berarti untuk pamer ke Pak Kromo dan sampeyan bisa meminta beliau menunjuk dengan jari lokasi pasar Pundong itu. Tetapi untuk membantu sampeyan sendiri, menerjemahkan keterangan verbal Pak Kromo menjadi keterangan yang bisa divisualisasikan. Otomatis masalah ngetan-ngulon tadi teratasi, kemudian istilah sempalan Pundong (= cabang jalan ke Pundong) dari induk jalan Parangtritis itu bisa ditemukan dipeta. Secara visual peta menunjukkan maksud dari Pak Kromo tadi. Dengan catatan: peta yang anda bawa ya memang peta obyek wisata jogja, anda bisa membaca. Pasti dipeta itu ada jalan Parangtritis, wong Parangtritis itu termasyur je, mosok tidak ada dipeta itu. Kalau masih nyasar-nyasar lagi, anda perlu dikalibrasi. Wis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: