Posted by: senimanpeta | November 4, 2009

Senimanpeta Pindah Rumah dan Alamat

pindah

Senimanpeta akhirnya mengambil keputusan untuk pindah “rumah” dan “alamat” baru yang dirasa lebih baik. Untuk berkunjung silahkan ikuti jalan ini.

Advertisements
Posted by: senimanpeta | November 3, 2009

Dari Studio Peta ke Gallery Peta

DSCN0976

Pengen.., itu yang terucap pada saat itu. Kira-kira sudah 5 tahun lalu, selepas lulus perguruan tinggi itu. Apakah itu..?. Sebuah studio untuk berkarya peta. Pengen sekali memberikannya nama, Studio Peta 8. Mengapa dengan embel-embel¬† angka 8 ?. Angka 8 ini sekedar simbolis dari kacamata saja. Tidak ada hal-hal lain dibalik itu. Dan benar memang saya berkacamata minus. Artinya itu studio peta punyanya orang berkacamata.. ūüôā

Kalau terhitung saat ini, itu semua tergolong sebuah keinginan lama. Namun walaupun waktu telah cukup jauh dari masa itu, keinginan itu tidak mati dan hilang. Tetap saja ada meski tersimpan dibalik lembar-lembar kehidupan saya. Dan pada akhirnya tanpa disengaja muncul kembali. Dipicu oleh 2 hal yang tampaknya sederhana bagi anda. Pertama adalah karena buku the Malay Archipelago karya Alfred Russel Wallace yang didalamnya memuat ceritera perjalanannya lengkap dengan ilustrasi dan peta-peta antiq. Yang kedua adalah tulisan ini.

Dari pengen punya studio ke pengen punya gallery peta. Studio itu saja belum dimiliki, masih jauh rasanya, apalagi sebuah gellery peta itu. Apakah ini sebuah khayalan belaka?. Bagi saya pribadi ini penyemangat berkarya. Tak terasa bila dihitung dari waktu lulus perguruan tinggi itu, sudah 5, 5 tahun dan kurun waktu itu pula saya menekuni dunia profesional yang berkaitan dengan peta ini. Meskipun semasa belum lulus, bekerja serabutan dalam bidang ini juga telah berjalan.

Kalu dilihat dari ukuran waktu, masih belum lama, dan apa yang saya hasilkan belumlah pantas, masih jauh dari para senimanpeta masyur  semisal Erwin Raisz.  Namun  ini bagian dari footprint saya sebagai pribadi.  Kalau saya memegang handheld GPS, kemudian track log itu diaktifkan, maka GPS akan merekam kemana saya melangkah.  Seperti jejak-jejak yang ditinggalkan penjelajah samudera, misalnya Magellan yang jejaknya bisa anda temui dipeta.

Posted by: senimanpeta | November 2, 2009

Lalu lintas..

art.economy.traffic.gi

Akhir-akhir ini saya merasa jalanan semakin terasa padat oleh kendaraan baik itu sepeda motor, mobil, truk maupun bis. Khususnya sepeda motor dan mobil pribadi. Seperti yang saya alami pagi tadi ketika berkendara menuju menuju tempat  berkarya. Jalur utama yang saya tempuh melintasi by pass Ngurah Rai terasa makin padat dan semrawut. Sekitar menjelang jam 09:00 pagi tadi saya melintas, dan jam itu termasuk jam padatnya. Karena bertepatan dengan waktunya orang menuju ke kantor atau tempat kerjanya masing-masing.

Agaknya yang memiliki sepeda motor maupun mobil semakin hari semakin banyak sementara kapasitas jalan tetap segitu-segitu saja. Itu yang saya perhatikan, setidaknya dalam kurun hampir 3, 5 tahun tahun terakhir terhitung dari saat saya merantau disini. Sempat bertanya-tanya bagaimana kondisi 1 Р2 tahun ke depan dengan tren jumlah kendaraan yang semakin meningkat. Terfikirkan rute  alternatif  yang perlu saya lalui menuju tempat berkarya bila jalur ini semakin padat saja. Dan terlintaslah perpaduan GIS dan GPS sebagai sarana yang besar harapannya bisa membantu. Dengan alat itu saya berfikir dan berharap akan bisa memberikan alternatif rute saat berkendara.

Tetapi beberapa saat kemudian saya membantahnya sendiri. Dalam pikiran saya itu, alat ataupun sarana  apapun juga tidak  akan berguna kondisi lalu lintas sudah sangat padat, semrawut dan sudah macet. Bagaimana ada pilihan rute yang terbaik bila kondisi lalu lintas sudah sangat parah?. Kita sudah terjebak didalam kondisi yang tiada pilihan selain menjalani kemacetan kemacetan dengan perasaan senang tidak senang berbaur menjadi satu. Menjalani hari-hari dalam kemacetan lalu lintas dengan sabar, rela waktu terbuang di jalan.  Dan itu sudah pilihan akhir, tiada alternatif lain yang bisa dipilih. Kecuali pilihan itu adalah untuk tidak pergi kemana-kemana, di rumah saja maka anda tidak perlu pusing. Sementara itu lama-kelamaan  kejadian-kejadian lalu lintas seperti di kota-kota besar dunia akan terjadi ditempat ini.

Lalu, lantas bagaimana?. Agar alternatif rute atau jalan keluar menghindar dari kemungkinan mendapati kesemrawutan bahkan terjebak kemacetan lalu lalu lintas?. Saran saya yang paling sederhana, berangkatlah lebih dini ke menuju tempat tujuan. Kalaupun dijalan anda mendapati kesemrawutan, kepadatan lalu lintas, macet dan seterusnya anda tidak terlambat sampai, dan kalaupun terlambat sedikit saja. Tapi ini sebetulnya bukan solusi jangka panjang.

Harus ada perencanaan dan manajemen lalu lintas. Baik infrastrukturnya, kendaraanya, semua perlu ditata. Saya pikir itu yang perlu mulai disadari dan diperhatikan semua orang. Memang ini tidak mudah, tetapi kalau menunggu dan semuanya tidak terkendali, kita semua akan terlambat. Dan alat-alat semacam GPS yang kini mulai marak dipasang dan dipakai dikendaraan itu tidak berguna sama sekali. Sekedar sebagai aksesoris yang keberadaannya sudah tidak signifikan. Jalanan macet semua, tidak ada  rute alternatif yang bebas dari macet.

Foto copyright by getty images diambil dari sini

Older Posts »

Categories